Tampilkan postingan dengan label Kep. Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kep. Jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Menarik Diri

Pengertian menarik diri adalah merupakan suatu percobaan untuk menghindari interaksi atau hubungan dengan orang lain yang ditandai dengan isolasi diri dan perawatan diri yang kurang.
Penyebab :
  1. Perkembangan
    Sentuhan, perhatian, atau kehangatan yang kurang dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak adekuat dapat berakhir dengan menarik diri.
  2. Komunikasi dalam Keluarga
    Klien sering mengalami kecemasan dalam berhubungan dengan anggota keluarga, sering menjadi kambing hitam, sikap keluarga yang tidak konsisten (kadang boleh kadang tidak). Sikap ini membuat klien enggan berkomunikasi dengan orang lain.
  3. Sosial Budaya
    Di kota besar, masing-masing individu sibuk memperjuangkan hidup sehingga tidak ada waktu bersosialisasi. Individu yang tidak produktif diasingkan dari orang lain, situasi ini mendukung perilaku menarik diri.

Tanda-tanda :
  1. Aspek Fisik
    1. Makan dan minum kurang
    2. Tidur kurang atau terganggu
    3. Penampilan diri kurang
    4. Keberanian kurang
  2. Aspek Emosi
    1. Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
    2. Merasa malu atau bersalah
    3. Mudah panic dan tiba-tiba marah
  3. Aspek Sosial
    1. Duduk menyendiri
    2. Selalu tunduk
    3. Tampak melamun
    4. Tidak peduli lingkungan
    5. Menghindar dari orang lain
    6. Tergantung pada orang lain
  4. Aspek Intelektual
    1. Putus asa
    2. Merasa sendiri, tidak ada sokongan, kurang percaya diri
Peran serta keluarga dalam merawat klien
  1. Memenuhi kebutuhan sehari-hari
    1. Bantu dan perhatikan pemenuhan kebutuhan makan, minum, kebersihan diri dan penampilan
    2. Latih dan libatkan klien dalam kegiatan sehari-hari (cuci pakaian, setrika, menyapu, dll)
  2. Bantu komunikasi dengan teratur
    1. Bicara jelas dan singkat
    2. Kontak / bicara secara teratur
    3. Pertahankan tatap mata secara teratur
    4. Lakukan sentuhan yang akrab
    5. Sabar, lembut, tidak terburu-buru
    6. Hindari kecemasan pada klien
  3. Libatkan dalam Kelompok
    1. Beri kesempatan untuk menonton TV, mendengarkan music, membaca buku, dll
    2. Sediakan peralatan pribadi seperti tempat tidur, almari, dll
    3. Pertemuan keluarga secara teratur
Menyendiri bisa menimbulkan gangguan jiwa lain yaitu halusinasi ( merasa mendengar bisikan, merasa melihat bayangan, merasa ada yang meraba, merasa mencium bau, yang semua itu sebenarnya tidak ada ).




Rabu, 15 Februari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN MENARIK DIRI

       I.            Masalah Utama :
Menarik diri.

    II.            Proses Terjadinya Masalah
                              1.            Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Terjadinya perilaku menarik diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan stressor presipitasi. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predispoisi terjadinya perilaku menarik diri. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang lain, lebih menyukai berdiam diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.
Gejala Klinis :
§  Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
§  Menghindar dari orang lain (menyendiri)
§  Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat
§  Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk
§  Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas
§  Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap
§  Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
(Budi Anna Keliat, 1998)

                          
    2.            Penyebab dari Menarik Diri
Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Gejala Klinis
·         Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
·         Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
·         Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
·         Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
·         Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
( Budi Anna Keliat, 1999)

                              3.            Akibat dari Menarik Diri
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakita adanya terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan eksternal.
Gejala Klinis :
·         bicara, senyum dan tertawa sendiri
·         menarik diri dan menghindar dari orang lain
·         tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata
·         tidak dapat memusatkan perhatian
·         curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut
·         ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
(Budi Anna Keliat, 1999)
 III.            Pohon Masalah

Resiko Perubahan Sensori-persepsi :
Halusinasi ……..


Isolasi sosial : menarik diri Core Problem


Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
( Budi Anna Keliat, 1999)

 IV.            Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji
a. Masalah Keperawatan
1.      Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
2.      Isolasi Sosial : menarik diri
3.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
1.      Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
1). Data Subjektif
1.      Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
2.      Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
3.      Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
4.      Klien merasa makan sesuatu
5.      Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
6.      Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar
7.      Klien ingin memukul/ melempar barang-barang
2). Data Objektif
1.      Klien berbicara dan tertawa sendiri
2.      Klien bersikap seperti mendengar/ melihat sesuatu
3.      Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
4.      Disorientasi
2.      Isolasi Sosial : menarik diri
1). Data Subyektif
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi. Terkadang hanya berupa jawaban singkat ya atau tidak.
2). Data Obyektif
Klien terlihat apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri di kamar dan banyak diam.
3.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah
1). Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
2). Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ ingin mengakhiri hidup.

    V.            Diagnosis Keperawatan
1). Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
2). Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

VI. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1 : Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya
Tindakan:
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
1.      sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
2.      perkenalkan diri dengan sopan
3.      tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
4.      jelaskan tujuan pertemuan
5.      jujur dan menepati janji
6.      tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7.      berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2.      Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Rasional : Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stres dan penyebab perasaaan menarik diri
Tindakan
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2.1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
2.1. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul
2.1. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Rasional :
·         Untuk mengetahui keuntungan dari bergaul dengan orang lain.
·         Untuk mengetahui akibat yang dirasakan setelah menarik diri.
Tindakan :
1.      Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain
1.      Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain
2.      Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
3.      Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
2.      Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
1.      Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
2.      Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
3.      Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4.      Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Rasional :
·         Mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku menarik diri yang biasa dilakukan.
·         Untuk mengetahui perilaku menarik diria dilakukan dan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku konstruktif dan destruktif.
Tindakan
1.      Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
2.      Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
·         K – P
·         K – P – P lain
·         K – P – P lain – K lain
·         K – Kel/ Klp/ Masy
1.      Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
2.      Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
3.      Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
4.      Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
5.      Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
4.      Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Rasional : Dapat membantu klien dalam menemukan cara yang dapat menyelesaikan masalah
Tindakan
1.      Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
2.      Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain
3.      Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Rasional : memberikan penanganan bantuan terapi melalui pengumpulan data yang lengkap dan akurat kondisi fisik dan non fisik pasien serta keadaan perilaku dan sikap keluarganya
Tindakan
1.      Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
·         salam, perkenalan diri
·         jelaskan tujuan
·         buat kontrak
·         eksplorasi perasaan klien
1.      Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
·         perilaku menarik diri
·         penyebab perilaku menarik diri
·         akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
·         cara keluarga menghadapi klien menarik diri
3.      Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain
4.      Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
5.      Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
Diagnosa 2 : Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya
Tindakan :
1.      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik
1.      sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
2.      Perkenalkan diri dengan sopan
3.      Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
4.      Jelaskan tujuan pertemuan
5.      Jujur dan menepati janji
6.      Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7.      Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
2.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Rasional :
·         Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.
·         Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien
·         Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian
Tindakan:
2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.1. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.1. Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Rasional :
·         Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah.
·         Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya
Tindakan:
1.      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
2.      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Rasional :
·         Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
·         Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.
·         Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan
Tindakan:
1.      Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
·         Kegiatan mandiri
·         Kegiatan dengan bantuan sebagian
·         Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
1.      Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
2.      Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Rasional :
§  Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien
§  Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien
§  Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan
Tindakan:
1.      Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
4.      Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Rasional:
·         Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah
·         Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien.
·         Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.
Tindakan:
1.      Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah
2.      Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
3.      Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di ruma
DAFTAR PUSTAKA
1.      Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
2.      Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998
3.      Budi Anna Keliat. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta : FIK UI. 1999
4.      Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
5.      Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
6.      Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000





MENGKONTROL EMOSI UNTUK MENJAGA KEMAMPUAN BERPRESTASI SECARA OPTIMAL


1.       Latar Belakang Masalah
Ditengah bangsa Indonesia yang sedang bergumul dalam berbagai sektor pembangunan, bidang olahraga juga mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah. Salah satu hasil pembangunan olahraga yang sangat didambakan, baik para atlet dan pembinanya maupun para anggota masyarakat secara luas, adalah terciptalah prestasi puncak para atlet Indonesia. Prestasi puncak addalah kemampuan atlet atau anggota kelompok (tim) untuk menciptakan prestasi maksimal, sehingga dapat lebih banyak berbicara di arena pertandingan olahraga nasional maupun internasional (Drs. Abdul Hamid Tjatjo MP, 1989).
Berbagai kalangan mengemukakan pendapat bahwa untuk peningkatan prestasi olahraga diperlukan perombakan dan perubahan sistem manajement yang selama ini dilaksanakan, antara lain masalah lembaga-lembaga dan kurikulum olahraga di sekolah serta para guru dan pelatih yang memerlukan peningkatan ketrampilan. Demikian pula sistem pembinaan atlet secara langsung seperti metode dan strategi latihan, sarana dan prasarana, masalah gizi dan penerapan berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan pembinaan ini. Berdasarkan urutan diatas, terlihat betapa luas masalah yang menyangkut usaha peningkatan prestasi tersebut. Tetapi dikemukakan suatu analisis strategi pembinaan olahraga yang masih jarang, yaitu strategi meditasi dalam mencapai prestasi puncak. Peranan masalah-masalah kejiwaan mempunyai pengaruh yang penting malah kadang-kadang menentukan, di dalam usaha orang atau atlet untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Misalnya aspek dan peranan motivasi, aktivasi, frustasi, rasa bimbang ketakutan anxiety (kecemasan), ambisi untuk menang, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Aspek-aspek tersebut perlu kita pelajari dan hayati kalau kita ingin mendidik dan melatih anak manusia (Drs. Harsono Msc, 1988).
Dengan pengetahuan akan aspek-aspek tersebut di atas para pelatih diharapkan akan dapat berhubungan dengan subyek atlet dengan lebih banyaknya pengertian dan memperlakukan mereka secara lebih manusiawi, sehingga kedewasaan jiwa dan matuvitas keolahragaan mereka dapat berkembang lebih baik. Seorang pelatih dalam suatu tim olahraga tersebut, terutama olahragawan-olahragawan pertandingan akan selalu beradda dibawah stress-stress, baik stress fisik maupun stress mental yang disebabkan oleh lawan atau kawan bermain, penonton, pengaruh lingkungan, sarana dan prasarana dan sebagainya, terutama dalam situasi-situasi pertandingan yang menggerakkan pusat-pusat organisme yang mengatur koordinasi akal dan otot (Mid an Body).
Stretegi untuk mempertinggi aktivitas kelompok, seperti percakapan bebas, dapat membantu seorang atlet mencapai tingkat kesiagaan optimal, tetapi dapat menyebabkan atlet lain mengalami kegairahan yang berlebihan. Prosedur aktivitas jangan dilakukan secara sama rata, melainkan bantulah setiap atlet menemukan tingkat kesiagaannya masing-masing. Melatih atlet mencapai keadaan relaksi akan menolong mereka terhindari dari lingkaran anxietas-stress. Atlet harus dilatih relaks dalam beberapa detik dengan relaksasi progresive, latihan togenik atau meditasi transendental. Bagian prosedur relaksasi yang penting adalah pemusatan perhatian pada proses mental yang dianjurkan bagi atlet, yaitu : mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan atau menggunakan mantra, kata-kata kunci atau kalimat. Kedua mengalihkan perhatian dengan memusatkan pikiran pada kata-kata sandi tadi. Atlet yang mempunyai ketrampilan untuk menentukan tujuan yang baik, akan lebih berhasil daripada atlet yang tidak mempunyai ketrampilan itu. Ketrampilan untuk menentukan tujuan harus menjadi bagian integral perkembangan ketrampilan psikologis atlet. Kadang-adakang dalam keadaan kurang siaga diperlukan strategi penguatan Psikis. Percakapan bebas, papan komunikasi, berita dan dukungan penggemar merupakan strategi yang berguna untuk menyiapkan atlet menghadapi pertandingan penting. Cara ini tidak boleh dipakai secara berlebihan atau disamaratakan oleh stlet. Latihan mengatasi stress dengan program seperti VMBR, SIT dan SMT sangat efektif untuk mencapai respons relaksasi. Atlet yang tertekan karena kompetisi dan mendapat keuntungan dari salah satu program ini. Apakah penampilan akan meningkat tergantung tercapai atau tidaknya tingkat kesiagaan dan kegairahan yang optimal. Penggunaan program secara merata untuk semua atlet tidak dibenarkan.



2.       Rumusan Masalah

A.    Stress Kecemasan dan Frustasi

1.      Gejala emosional “stress”
2.      Stress dan pertandingan
3.      Pengaruh pelatihan pada kepribadian atlet
4.      Stress, kegelisahan dan kebangkitan
5.      Memahami patah semangat

B.    Mencegah dan Mengatasi Patah Semangat

1.      Memegang teguh pandangan yang benar
2.      Lingkungan baru
3.      Menggunakan asisten pelatih
4.      Dukungan keluarga
5.      Banggalah pada dirimu sendiri

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Stress, Kecemasan dan Frustasi

Teori kesatuan psiko fissik atau teori psiko fisik totalitas berkembang karena para ahli menyadari bahwa orang yang keadaan kejiwaannya mengalami gangguan, karena rasa susah, gelisah, atau ragu-ragu menghadapi sesuatu, ternyata mempengaruhi kondisi fisiknya. Akibat rasa susah dan gelisah menghadapi masa depan, seseorang kurang dapat tidur nyenyak, sehingga akhirnya mempengaruhi tingkah laku dan penampilannya. Sebaliknya keadaan fisik yang kurang sehat, karena sedang sakit, sesudah mengalami kecelakaan dan cidera, juga dapat mempengaruhi kejiwaan individu yang bersangkutan : kurang dapat memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapi, kurang dapat berpikir dengan tenang, kurang dapat berfikir dengan cepat, dan sebagainya. Perasaan atau emosi dapat memberi pengaruh-pengaruh fisiologik seperrti : Ketegangan otot, denyut jantung, peredaran darah, pernapasan berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon tertentu.
Sehubungan itu semua, maka jelaslah bahwa gejala psikik akan mempengaruhi penampilan dan prestasi atlet. Dalam hubungan itu pengaruh gangguan emosional perlu diperhatikan, karena gangguan emosional dapat mempengaruhi “Psichological Stability” atau keseimbangan Psikik secara keseluruhan, dan ini berakibat besar terhadap pencapaian prestasi atlet. Dalam melakukan kegiatan olah raga lebih-lebih untuk mencapai prestasi yang tinggi, diperlukan fungsinya aspek-aspek kejiwaan tertentu; misalnya untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam cabang olah raga yang dimiliki oleh atlet harus dapat memusatkan perhatian dengan baik, penuh percaya diri, tenang dapat berkonsentrasi penuh meski ada gangguan atau suara dan lainnya.
1.      Gejala emosional “stress”
Seperti halnya pada otot-otot kita mengalami ketegangan, karena melakukan pekerjaan fisik, maka kitapun mengalami ketegangan psikik yang disebut “stress”. Menurut Gauron (1984) stress seperti halnya ketegangan otot tidak dapat dielakkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita tidak dapat menghindarkan ketegangan psikik atau stress, beberapa ketegangan diperlukan dan beberapa ketegangan tidak diperlukan dalam penampilan dan melakukan tugas. Untuk dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu dibutuhkan adanya ketegangan atau “Lack of Tension” akan berakibat kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik. Untuk dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu dibutuhkan adanya ketegangan otot-otot dimana ketegangan tersebut sangat diperlukan kemanfaatannya.
Setiap atlet bertanding dalam suatu peristiwa olahraga merasakan adanya peningkatan ketegangan emosional untuk mengantisipasi situasi pertandingan yang dihadapi. Singer (1986) mengemukakan bahwa aktivitas penuh ketegangan tidak selalu jelak bagi seorang atlet. Ditinjau dari macam reaksi mental dan emosional, Singar menunjukkan dan gejala yang berhubungan dengan emosi yaitu : tidak adanya kesiapan dan penuh kesiapan. Tidak adanya kesiapan atau “Under Readiness” ada hubungan dengan kurangnya otivasi, sedangkan “over readiness” atau penuh kesiapan berhubungan dengan kesiapan untuk menang ataupun penampilan buruk, ketakutan akan kalah dan sebagainya.
Stress atau ketegangan Psikik bentuknya dapat beraneka macam menurut Gauron (1984) stress menunjukkan gejala tidak sama terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi, untuk dapat melakukan adaptasi. Menghadapi stress, badan manusia mengadakan reaksi dengan cara-cara atau bentuk yang konsisten ada pengarahan atau “arausal” system syaraf otonom tertentu. Jadi gejala stress menurut Gauron tersebut dapat lebih bervariasi dibanding “tension” atau ketegangan fisik yang dialami seseorang.

2.      Stress dan Pertandingan
Menurut Scanlan (1984) dalam tulisannya yang berjudul : “Competitive Stress and The Child Athlete” yang dimuat dalam buku “Psychological Foundations of Sport” mengemukakan bahwa “Competitive Stress atau Stress” timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emosional yang negatif pada anak apabila rasa harga dirinya merasa terancam. Hal seperti ini terjadi apabila atlet junior menganggap pertandingan sebagai tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.
Stress selalu terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan, sehingga kemungkinan tidak tercapainya tersebut menghantui pikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional yang akhirnya berpengaruh terhadap proses-proses psikologik maupun proses fisiologi.
Spielberger (1986) dalam tulisannya mengenai “Stress and Enxiety in Sport” dalam kumpulan ilmiah yang dihimpun oleh Morgan berjudul “Sport Psycology” (1986) menegaskan bahwa stress menunjukkan “Psychobiological Prosess” yang komplek, dan proses ini pada umumnya terjadi dalam situasi yang mengandung hal yang dapat merugikan berbahaya, atau dapat menimbulkan irustasi (stressor). Stressor menunjukkan situasi-situasi atau stimuli yang secara obyektif ditandai dengan adanya tekanan fisik ataupun Psikologik atau bahaya dalam kehidupan sehari-hari dalam tingkat-tingkat yang berbeda dalam perkembangan manusia. Reaksi yang berbeda-beda akan muncul dalam menghadapi “Stressor” tergantung pada situasi tertentu yang diperkirakan menimbulkan ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya. Dalam hubungannya dengan olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya stress menghadapi pertandingan, maka permasalahannya sangat banyak tergantung pada diri atlet yang bersangkutan. Pelatih-pelatih dan banyak peneliti olahraga pada umumnya sepakat adanya pengaruh dari penonton, baik penonton tamu maupun suporter, terhadap kesehatan mental atlet. Suatu kondisi mental yang sering kali nampak bila manusia berfikir dan bertindak bersama-sama dalam suatu kumpulan orang banyak atau gerombolan, meskipun mereka satu sama lain belum saling mengenal sebelumnya. Pengaruh penonton yang nampak terhadap pemain pada umumnya berupa menurunnya keadaan mental kebawah normal. Pengaruh tersebut kadang-kadang demikian dahsyatnya sehingga pemain seakan-akan ia tidak boleh mengenal dirinya sendiri atau memiliki dirinya sendiri. Penontonlah yang seakan-akan menggariskan dia apa yang harus dilakukannya bagaimana ia harus bermain sehingga menurunkan keasliannya serta keberaniannya dan dia lalu terpaksa memanjakan dirinya sendiri dengan kebaikan-kebaikan yang palsu, yaitu mengabulkan permintaan-permintaan penonton, meskipun ia mengetahui bahwa sebenarnya tindakan itu salah.

3.      Pengaruh Pelatihan Pada Kepribadian Atlet
Dalam uraian-uraian diatas telah dibicarakan secara luas masalah anxiety dan pengaruh-pengaruhnya terhadap usaha serta prestasi atlet. Akan tetapi hanya mengetahui “The What” saja mengapa atlet takut tanpa mengetahui “The How” atau bagaimana cara penyembuhannya tidaklah banyak manfaatnya. Dengan pengetahuan mengenai cara penyembuhannya. Kita seringkali dapat menyusun teori-teori dan strategi, serta menciptakan situasi guna menolong atlet menghilangkan atau sekurang-kurangnya merendahkan anxiet. Hal ini bukanlah berarti bahwa pelatih dapat bertindak sebagai seorang Psikiater atau Psikolog. Akan tetapi dia harus dapat mengenal (recognize) isyarat-isyarat atau pertanda-pertanda takut yang berlebihan pada atlet untuk kemudian menyaringnya, mana yang kira-kira berada dalam kemampuannya untuk ditangani ddan mana bidang garapan Psikiatris atau Psikolog. Arousal dan anxiety akan selalu ada dan tidak mungkin dihindari dalam setiap pertandingan. Tantangan bagi pelatih adalah, bagaimana menolong atlet untuk mengenal (recognize) arousal dan respon-respon anxiety, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap situasi-situasi yang dihadapi, terutama situasi-situasi yang kurang enak dan kurang menggembirakan baginya. Kemampuan untuk menyetel dan mengatur tingkat anxiety dan tingkat aktivitas sebelum dan selama pertandingan merupakan skill yang sangat penting guna memperoleh prestasi yang setinggi-tingginya oleh karena itu seorang pelatih harus jeli dan pandai-pandai memperkirakan tingkat aktivasi yang bagaimana yang paling cocok bagi setiap atletnya agar mereka dapat tampil sebaik mungkin dan prestasi seoptimal mungkin. Susahnya memang, tidak ada satu-satunya cara yang terbaik dalam mengggugah emosi mereka sebelum pertandingan. Dan belum tentu metode-metode inovatif dan kreatif yang ternyata berhasil dan afaktif dalam situasi tertentu akan juga efektif dalam situasi lain, sekalipun diterapkan oleh pelatih yang sama.
Selama masa latihan dan pertandingan, hubungan pelatih dan atlet banyak membawa pengalaman bersama yang memberi efek terhadap kepribadian atlet. Efek ini bisa bersifat posituf atau negatif. Hubungan antara pelatih dan atlet biasanya lebih luas dan kuat. Sebagian besar waktu dan energi dicurahkan untuk berpartisipasi dalam olahraga. Semakin dekat hubungan antara pelatih dan atlet, semakin kemungkinan seorang atlet meniru sebagian kepribadian pelatih.
Selanjutnya pengertian dari pelatih dapat membentuk atlet yang mengalami konflik. Konflik atlet antara keinginan dan mencapai tujuan, konflik tentang perasaan menghadapi kompetisi dan konflik antara pribadi dan kepentingan regu kadang-kadang dapat diselesaikan dengan cara yang baik atas bantuan pelatih. Jadi pelatih adalah semacam pemberi bimbingan dan nasehat.ahli psikologi yang bekerja untuk suatu regu mendapati bahwa dalam regu yang berhasil, pelatih dan pemain biasanya mempunyai data kepribadian yang hampir sama.

4.      Stress, Kegelisahan dan Kebangkitan
Tiga istilah yang paling komplek dan memusingkan dalam psikologi olahraga adalah stress, kecemasan, dan kebangkitan. Sudah sangat sering istilah-istilah tersebut digunakan seolah-olah semua bermakna sama. Tetapi tidak pada kenyataannya mereka bahkan tidak mungkin muncul secara bersamaan. Dalam beberapa situasi pertandingan, baik kegelisahan maupun kebangkitan yang meningkat (perubahan psikologis) tanpa adanya kegelisahan (kecemasan Psikologis seperti khawatir atau takut). Tetapi apabila kegelisahan dipengaruhi, maka kebangkitan akan ditingkatkan juga. Untuk tujuan kami, stress akan diberi arti sebagai suatu situasi yang potensial dalam menimbulkan kegelisahan dan kebangkitan. Apalagi perubahan-perubahan ini tidak terjadi dalam tanggapan yang menuju pada kenyataan atau situasi tersebut tidaklah penuh dengan tekanan. Harus diakui bahwa situasi yang menyebabkan suatu tanggapan tekanan dalam diri seorang olahragawan tidak selamanya menimbulkan tanggapan respon tekanan pada anggota tim lainnya. Ini berarti bahwa setiap olahragawan akan menanggapi stress secara berbeda dan oleh sebab itu mereka harus dibimbing secara perorangan. Untuk memahami hal ini pelatih harus menyadari betapa pentingnya bermain dengan proses kognitif. Penafsiran olahragawan tentang keadaanlah yang mempengaruhi bagaimana reaksi mereka terhadap hal ini, secara kejiwaan maupun secara fisiologis. Jadi persepsi olahragawan tentang keadaan adalah faktor penting yang menentukan tingkah lakunya.
Banyak tuntutan atlet dan sifat persaingan olahraga dapat menyebabkan atlet menghadapi stress yang terus menerus dalam hidupnya. Pada umumnya, apabila stress dapat dikendalikan dengan baik, maka ia dapat berfungsi sebagai rangsangan yang menggairahkan bagi atlet, ia menjadi daya tarik bagi mereka untuk berlatih dan membangkitkan semangat kerja mereka. Tetapi jika stress terjadi secara berlebihan dan berlangsung lama, ia dapat merusak keberhasilan dan kebahagiaan atlet.
Stress dapat mengarah pada fenomena yang dewasa ini disebut “Patah Semangat”. Apabila atlet mengalami patah semangat, mereka seringkali sangsi kemampuan mereka untuk melatih atlet secara efektif. Selanjutnya kemampuan pelatih olahragawan mungkin juga diragukan. Pelatih mungkin meyakini bahwa pimpinan olahragawan dan sekolah atau organisasi merupakan sumber kegagalan. Dengan demikian, atlet yang mengalami padam semangat menganggap bahwa atlet tidak memungkinkan.

5.      Memahami Patah Semangat
Atlet yang mengalami patah semangat menemukan bahwa mereka lebih mudah lelah dan tidak memiliki lagi tenaga yang pernah mereka miliki. Mereka sering merasa tak berdaya, mudah marah dan kurang kendali atas lingkungannya. Atlet yang sudah patah semangat akan kehilangan kesabarran dan kemungkinan besar menjadi frustasi. Lemahnya atlet tersebut menjadi berfikiran tertutup dan jadi tidak luwes. Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam tugas untuk berlatih mungkin meningkat, namun lebih sedikit yang terselesaikan. Akhirnya atlet yang patah semangat menjadi tidak sehat, terlalu lelah dan merasa tertekan. Merka sering mengalami sakit kepala atau penyakit fisik dan lainnya. Kegagalan yang pernah dianggap berasal dari kelemahan yang dapat diperbaiki, dipandang sebagaai rintangan yang mustahil diatasi. Pada mulanya pelatih semacam itu menyalahkan kegagalan pada kualitas olahragawannya atau lawan tandingnya. Namun akhirnya atlet tersebut menginternalisasikan kegagalan tersebut dan menyalahkan dirinya sendiri. Jelasnya, kita harus melakukan sesuatu untuk menghindarkan atlet mengalami krisis semacam ini.

B.    Mencegah dan Mengatasi Patah Semangat

Patah semangat harus dicegah apabila orang menginginkan kebahagiaan dan keberhasilan. Pengertian ini kemudian harus diikuti dengan kesadaran diri tentang nilai-nilai perorangan dan menafsirkan pengalaman pribadi mereka dalam latihan. Menginsyafi tingginya tuntutan pribadi untuk berhasil., disertai kuatnya perhatian dan tanggungjawab pada olahragawan harus dianggap sebagai gejala utama timbulnya patah semangat pada atlet. Dengan kesadaran diri atlet dapat mulai menggunakan kekuatan-kekuataan ini untuk keberhasilan mereka tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan dan perilaku mereka.. memperolah keseimbangan yang sehat diantara sesama atlet, pengurus keluarga dan kebutuhan pribadi adalah suatu langkah pokok guna mengatasi patah semangat.
1.       Memegang Teguh Pandangan Yang Benar
Mempertahankan suatu pandangan yang benar banyak sekali manfaatnya. Apabila atlet menderita stress berat, ia cenderung memikirkan tuntutan waktu, tenaga yang dihabiskan, masalah olahragawan, keluhan dari orang tua serta kejengkelan pada pengurus. Tetapi apabila ia mampu dengan sadar memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapi pada banyak karier lainnya, maka ia akan dapat mengambil manfaat darinya.

2.       Lingkungan Baru
Pendekatan lain untuk mengatasi patah semangat yaitu mencari kerja baru. Untuk tujuan itu olahragawan haarus hati-hati mengenali kelebihan dan kekurangan jabatan baru. Mereka harus yakin bahwa mereka akan lebih senang, dan bukannya kurang senang disamping itu, kadang-kadang sebuah lingkungan baru akan banyak manfaatnya.

3.       Menggunakan Asisten Pelatih
Banyak pelatih yang berhasil mengatasi dan mencegah patah semangat dengan menggunakan asisten-asisten pelatih berkualitas bakatnya yang bermacam-macam. Jadi asisten pelatih dapat mengisi peran yang tidak terisi oleh pelatih utama.pelatih yang hemat menyadari bahwa asisten pelatih muda dapat mudah berhubungan dengan olahragawan. Mereka mempunyai kelebihan asisten untuk menjaga hubungan antar pribadi dan informasi umpan balik yang perlu diketahui oleh pelatih kepala. Namun pelatih yang baik juga mengenali bahwa asisten pada peran ini secara potensial kepala. Namun pelatih yang baik juga mengenali bahwa asisten pada peran ini secara potensial dapat menimbulkan masalah. Jadi mereka mengantisipasi bahwa olahragawan akan mengatakan kepada asisten bahwa merekalah seharusnya manjadi pelatih kepala. Pelatih kepala memberikan asistennya untuk memberikan umpan balik dari mereka serta menekankan pentingnya selalu mendukung atlet lain dengan sikap antusias.

4.       Dukungan Keluarga
Banyaknya pelatih dapat melepaskan diri dari stress atlet yang terus menerus  melalui dukungan tak terbatas dari orang tua, kelurga dan teman-teman akrab. Seringkali orang tua ikut serta dalam olahraga untuk menghindari kesepian yang terus menerus. Kadang-kadang orang tua atau pacar berfungsi sebagai fotografer olahraga, pencatat nilai atau kepala hubungan masyarakat. Interaksi yang sangat akrab dengan anggota tim dapat menarik perhatian orang tua, sehingga ia dapat bertukar pikiran tentang masalah yang menjadi perhatian pelatih. Seorang atlet seringkali mendapat dukungan yang sangat besar dari keluarganya. Sebuah keluarga yang siap mendengarkan dan membahas masalah yang dihadapi olah anaknya sebagai atlet dapat secara aktif melawan tekanan dan menerima keadaan dirinya. Meskipun terus menerus berjuang untuk kemajuan dirinya mereka bangga apa yang mereka perankan dalam tiap pertandingan. Tuntutan ego seorang atlet yang berbahagia akan keadaan diirinya memberikan pengaruh yang positif dan tidak menimbulkan pengaruh positif.


5.       Banggalah Pada Dirimu Sendiri
Atlet yang bangga pada dirinya sendiri tidak akan mencoba manjadi orang lain.apabila olahragawan menanyakan strategi melatihnya mereka tidak marah atau menghardik untuk mempertahankan dan melindungi diri sendiri, bahkan mereka dengan yakin dan jelas menerangkan dan mempertahankan latihannya. Mereka memberikan tenaga untuk menguasai pelaksanaaan strateginya, dan yakin bahwa pelaksanaan itu akan membawa keberhasilan. Atlet yang merasa senang dengan keadaan dirinya adalah orang yang bahagia dan menyenangkan orang lain, dan orang tua bersama masyarakat. Hasilnya, para pemain biasanya mempunyai motivasi tinggi. Mereka senang bermain dengan pelatih yang penuh percaya diri. Olahragawan yang bermain dengan pelatih tersebut seringkali mencontoh pelatihnya dan menjadi bahagia serta senang keadaan dirinya yang sebenarnya. Olahragawan seperti itu jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk dilatih.

BAB III
KESIMPULAN

Stress merupakan pengaruh terbesar dalam penampilan olahraga. Dengan demikian pelatih harus mengerti perbedaan dan interaksi antara stress, kecemasan dan kegairahan. Pertimbangan khusus harus diberikan pada model kecemasan interaksional dan peran penting yang dimainkan dengan persepsi dalam menamakan dan menjawab peristiwa-peristiwa dalam lingkungan olahraga. Sindrom adaptasi umum dari Seleye menguraikan reaksi-reaksi khas terhadap stress.
Kegairahan dan kecemasan bisa sangat mempengaruhi perhatian atlet. Kesadaran diri dari gaya perhatian perorangan dan fleksibelitas perhatian adalah ciri-ciri yang perlu dikembangkan. Ada banyak sumber stress yang dihadapi atlet. Ini meliputi diri sendiri, pertandingan, pelatih, dan faktor penyebab lainnya. Stress merupakan gejala yang berubah-ubah pada saat atlet beranjak dari penampilan tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Berada dipuncak menjadi beban seperti halnya perjuangan yang dihadapi oleh atlet yang berkemampuan rata-rata.
Akhirnya, tekanan yang disebabkan olah harapan-harapan keinginan untuk menciptakan rekor dan keinginan bertanding didepan pengagum sangat berperan dalam menimbulkan stress. Pelatih harus menyadari dan peka akan kebutuhan olahragawan bila mereka ingin berusaha untuk menanggulangi sumber stress ini.
Keluarga atlet yang mempunyai pengaruh sangat besar. Orang tua secara langsung mengarahkan minat, perhatian dan harga diri anak-anak. Pengetahuan saudara kandung dan gaya orang tua dapat membantu pelatih dalam menentukan latihan kepada atlet.
Mental strength training merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan mental atlet, yang mengandung kesanggupan untuk mengembangkan kemampuan dalam keadaan bagaimanapun juga, menghadapi hambatan dari dalam diri sendiri.
Cakrawala baru dalam perkembangan psikologi olahraga dewasa ini menekankan arti pentingnya “Psicological Training” atau “mental training” untuk meningkatkan prestasi atlet, disamping itu mental training juga perlu untuk dapat mempertahankan prestasi dalam keadaan bagaimanapun juga, dalam menghadapi situasi-situasi pertandingan penuh ketegangan. Setiap aatlet selalu akaan menghadapi situasi psikologis “harapan untuk sukses” dan “ketakutan akan gagal” yang dihadapi atlet dapat diperkecil dan akibat-akibat negatif yang timbul juga diharapkan dapat lebih mudah diatasi.
 

DAFTAR PUSTAKA


Harsono, 1988, Coaching dan Aspek-aspek Psikologis Dalam Coaching.
Date, Rotella, Mc Clenagham, 1993
Singgih D. Gunarrsa dkk, 1989, Psikologi Olahraga
Sudibyo Setyobroto, 1989, Psikologi Olahraga.