Tampilkan postingan dengan label Kep. interna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kep. interna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR GASTER

A.  Anatomi Fisiologi
              Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan (alimentar) yaitu tubamuskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus dan organ-organ aksesoris seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung empedu, dan pankreas (Sloane, 2004 : 281). Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 984) saluran gastrointestinal adalah jalur (panjang totalnya 23 sampai 26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus. Lambung dan usus sampai anus. Organ saluran cerna (gastrointestinal) adalah membentuk suatu lumen kontinyu yang berawal di mulut dan berakhir di anus, fungsi utama saluran cerna adalah mencerna makanan dan menyerap cairan dan zat gizi yang diperlukan untuk energi dan sebagai bahan dasar (building bloks) untuk pertumbuhan (Alpers, 2006 : 1099).
1.   Rongga oral
                  Rongga oral adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesoris yang berfungsi dalam proses awal pencernaan.
a.   Bibir tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara.
b.   Pipi
                  Mengandung otot buksinator mastikasi lapisan epitelial pipi merupakan subject abrasi dan sel secara konstan terlepas untuk kemudian diganti dengan sel-sel baru yang membelah dengan cepat.
c.   Lidah
                  Diletakkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua, lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan, dan dalam produksi wicara.
d.   Kelenjar saliva atau ludah
                  Mensekresi saliva ke dalam rongga oral, saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus, fungsi saliva adalah melarutkan makanan secara kimia, melembabkan dan melumasi makanan, sebagai zat anti bakteri dan antibody yang membantu memelihara kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi.
e.   Gigi
                  Tersusun dalam kantong-kantong (alveoli) pada mandibula dan maksila. Manusia memiliki 2 susunan gigi : gigi primer (desiduous, gigi susu) yang totalnya 20 gigi, dan gigi sekunder (permanen) yang total keseluruhan 32 gigi, yang digunakan untuk pengunyahan (mastikasi) (Sloane, 2004 : 284).
2.   Faring
                  Faring merupakan penghubung rongga mulut dengan esofagus, aksi penelanan meliputi tiga fase (volunter, faring, esofagus) (Sloane, 2004 : 2850.
3.   Esofagus
                  Esofagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristaltik, mukosa esofagus memproduksi sejumlah besar mukus untuk melumasi dan melindungi esofagus, esofagus tidak memproduksi enzim pencernaan.
4.   Lambung
                  Lambung adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. Semua bagian kecuali bagian kecil terletak pada bagian sisi garis tengah. Regia-regia lambung terdiri dari bagian-bagian jantung, fundus, badan organ dan bagian pilorus.
a.       Bagian jantung lambung adalah area di sekitar pertemuan esofagus dan lambung (pertemuan gastroesofagus).
b.      Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esofagus.
c.       Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi di bawah fundus yang membentuk dua pertiga bagian lambung.
d.      Bagian pilorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke duodenum.
                  Fungsi lambung terdiri dari penyimpanan makanan, produksi kismus, digesti protein, produksi mukus, produksi faktor intrinsik (glikoprotein, vitamin B12 dan absorpsi (Sloane, 2004 : 288).
5.   Usus halus
                  Keseluruhan usus halus adalah tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup ileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar. Diameter usus halus kurang lebih 2,5 cm dan panjangnya 3 sampai 5 meter saat bekerja. Panjang 7 meter pada mayat dicapai saat lapisan muskularis eksterna berelaksasi. Divisi usus halus ada 3 yaitu : duodenum yaitu bagian yang terpendek (25 cm sampai 30 cm), yeyenum adalah bagian yang selanjutnya, panjangnya kurang lebih 1 meter sampai 1,5 meter, ileum (2 m sampai 2,5 m) merentang sampai menyatu dengan usus besar. Dan gerakan usus ada 2 jenis yaitu segmentasi irama adalah gerakan pencampuran utama, segmentasi mencampur kismus dengan cairan pencernaan dan memaparkannya ke permukaan absorptif. Gerakan peristaltis adalah kontraksi ritmik otot polos longitudinal dan sirkular. Kontraksi ini adalah daya dorong utama yang menggerakkan kimus ke arah bawah di sepanjang saluran (Sloane, 2004 : 289).
6.   Usus besar
                  Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar, sebagian besar nutrien telah dicerna dan diambil dan hanya menyisakan zat-zat yang tidak tercerna. Makanan biasa memerlukan waktu 2 sampai 5 hari untuk menempuh ujung saluran pencernaan yang satu ke ujung lainnya. Bagian-bagian usus besar antara lain sekum, apendik, dan  kolon terdiri dari asenden, tranversum, desenden dan sigmoid. Usus besar berfungsi sebagai tempat absorbsi air, natrium, dan mineral lain, sebagai tempat tinggal bakteri colli dan tempat feses (Sloane, 2004 : 295).
7.   Rectum
                  Rectum terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis. Fungsi rektum adalah sebagai jalannya feses dari kolon menuju anus.
8.   Anus
                  Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar. Fungsi anus adalah mengeluarkan feses. Dinding anus di perkuat oleh 3 sfingter antara lain sfingter ani internus, levator ani, dan sfingter ani eksternus.
                  Dalam membantu terlaksananya pencernaan makanan secara kimiawi dibutuhkan organ-organ aksesoris yang meliputi hati, kantong empedu dan pankreas.
1.   Hati
                  Hati adalah kelenjar terbesar di dalam tubuh, permukaan atas berbentuk cembung, dan terletak di bawah diafragma, terdapat lobus kanan dan kiri yang berfungsi memecah steroid, membuat empedu, membantu katabolisme karbohidrat, protein, lemak dan vitamin, memecah obat-obatan tertentu (Inayah, 2004 : 14).
2.   Kantong empedu
                  Getah empedu adalah cairan yang dihasilkan oleh hati bersifat alkali untuk mencerna lemak 80 % getah empedu adalah pigmen zat warna antara lain strekobillin yang merupakan warna feses, berfungsi sebagai diabsorbsi kembali oleh darah dan memberi warna pada urin (urobilin) (Inayah, 2004 : 14).
3.   Pankreas
                  Pankreas mempunyai dua kelenjar utama yaitu endokrin yang mengeluarkan insulin dan eksokrin yang meneruskan salurannya ke saluran pankreatik interna lalu ke saluran pankreatik eksterna yaitu duktus wirsung dan santorini (Inayah, 2004 : 11).

B.  Pengertian
                  Tumor gaster terdiri atas tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak dibagi atas tumor jinak epitel (benigna epithelial tumor) dan tumor jinak non epitel. Neoplasma jaringan ikat yang banyak ditemukan adalah tumor otot polos. Perangai tumor ini sulit diramalkan, dan sulit dibedakan antara tumor ganas dan jinak berdasarkan kriteria histologis. Salah satu gambaran yang mengarah ke jinak ialah ukurannya yang kecil, berkapsul, aktivitas mitolik yang rendah dan tidak ditemukan nekrosis (Underwood, 2000 : 439). Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2005 : 555) tumor jinak yang tersering ditemukan adalah polip dan leiomioma yang dapat membentuk adenomatosa hiperplastik, atau fibroid. Leiomioma yang merupakan tumor jinak otot polos lambung tidak bersimpai sehingga sulit dibedakan dari bentuk yang ganas (leiomiosarkoma) gambaran klinis dapat terjadi pada semua kelompok umur dan umumnya tumor ini tidak memberikan gejala klinis, kalaupun ada hanya berupa nyeri yang tidak sembuh dengan antasid. Pemeriksaan fisik tidak menemukan sesuatu kelainan, bila ditemukan kelainan perlu dipikirkan adanya karsinoma.

C.  Etiologi
                  Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1078) penyebab tumor gaster dimulai dari gastritis kronis menjadi atropi dan metaplasia intestinal sampai displasia premaligna, telah diketahui sebagai prekursor tumor gaster. Sejumlah mekanisme yang mungkin menghubungkan antara H. pylori dengan tumor gaster. Infeksi yang berlangsung lama menyebabkan atrofi kelenjar dan menurunnya produksi asam secara bertahap. Menurut Underwood (2000 : 440) yang menjadi penyebab tumor gaster adalah diet tinggi makanan asap, kurang buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan risiko terhadap tumor lambung. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden kanker lambung mencakup inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria, ulkus lambung, bakteri H. pylori, keturunan dan golongan darah A.

D.  Manifestasi Klinik
                  Menurut Soeparman (1998 : 114) menyatakan gejala klinis yang ditemukan tidak khas, dapat dalam bentuk keluhan nyeri epigastrium atau bila didapatkan komplikasi seperti perdarahan sukar di bedakan dengan perdarahan yang bersumber dari ulkus peptik. Gejala lain yang akan didapatkan adalah dalam bentuk akut abdomen, perdarahan saluran cerna bagian bawah atau gejala obstruksi. Menurut Brunner and Suddart (2002 : 1078) gejala awal dari tumor dan kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dimulai di kurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan gangguan fungsi lambung. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala pada pasien dengan ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dispepsia, penurunan berat badan, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah.

E.  Patofisiologi
                  Kanker dapat terjadi pada semua bagian lambung tetapi lebih sering ditemukan pada sepertiga distal. Kebanyakan kanker-kanker lambung adalah adeno karsinoma dan terjadi dalam bentuk-bentuk polypoid, ulseratif atau infiltratif. Bentuk ulseratif merupakan bentuk yang paling sering terjadi dan mungkin menampakkan gejala-gejala semacam ulkus peptikum, yang karenanya sering kali memperlambat diagnosis dan mendorong pasien untuk mengobati sendiri. Tumbuhnya kanker pada pintu masuk atau pintu keluar lambung dapat menimbulkan tanda-tanda obstruksi esofagus dan pilorus (nyeri ulu hati dan cepat kenyang). Pada umumnya bagaimanapun tanda-tanda awal dari kanker lambung tersebut tidaklah nampak. Kanker lambung dapat menyebar secara langsung melalui dinding lambung jaringan-jaringan yang berdekatan, ke pembuluh limfe, ke kelenjar limfe regional di lambung, ke organ-organ perut lain dan cenderung menyebar ke arah intraperitoneal. Prognosis tergantung pada dalamnya invasi dan tingkatan metastasis (Barbara C. Long, 1996 : 217).

F.   Pemeriksaan Penunjang
                  Menurut Hadi (1999 : 271) pemeriksaan tumor gaster meliputi :
  1. Pemeriksaan fisik : berat badan, anemia, adanya massa.
  2. Perdarahan tersembunyi dalam tinja (occult blood) : tes benzidin.
  3. Sitologi dengan gastrofiberskop.
  4. Rontgenologik : posisi (terlentang, tengkurap dan oblik, serta kompresi).
  5. Gastroskopi : pemotretan isi lambung.
  6. Gastrobiopsi : pengambilan jaringan secara visual pada lesi.
  7. Fosfor radio aktif dan CT scanning.

G.  Komplikasi
                  Menurut Sudayo (2006 : 351) komplikasi dari tumor gaster adalah sebagai berikut :
  1. Perforasi
  2. Hematemesis
  3. Obstruksi  pada  bagian bawah  lambung  dekat   pilorus
  4. Adhesi
  5. penyebaran pada berbagai organ seperti hati, pankreas dan kolon.

H.  Penatalaksanaan
                  Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1081) tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat di eksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini paling efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi dapat diperoleh dengan reaksi tumor. Bila gastrektomi subtotal radikal dilakukan, puntung lambung di anastomosikan pada yeyenum, seperti pada gastrektomi untuk ulkus. Bila gastrektomi total dilakukan kontinuitas gastrointestinal di perbaiki dengan anastomosis pada organ vital lain seperti hepar, pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal. Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi dan disfagia. Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan kontrol lanjut terhadap penyakit dan paliasi.

I.    Fokus Pengkajian
                  Menurut Doenges (2000 : 997) dasar data pengkajian pasien antara lain :
1.   Aktivitas
      Gejala    :   Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur malam hari, keterbatasan partisipasi dalam hobi, tingkat stress tinggi.
2.   Sirkulasi
      Gejala    :   Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja
      Tanda    :   Perubahan pada TD
3.   Integritas ego
      Gejala    :   Masalah tentang perubahan dalam penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, kehilangan kontrol, depresi.
4.   Eliminasi
      Gejala    :   Perubahan pada pola  BAB, perubahan eliminasi urinarius.
      Tanda    :   Perubahan pada usus, distensi abdomen.
5.   Makanan atau cairan
      Gejala    :   Kebiasaan diet buruk, anoreksia, mual atau muntah, intoleransi makanan, perubahan pada berat badan, berkurangnya massa otot.
      Tanda    :   Perubahan pada kelembaban atau turgor kulit.
6.   Neurosensori
      Gejala    :   Pusing, sinkope.
7.   Nyeri atau kenyamanan
      Gejala    :   Tidak ada nyeri atau derajad bervariasi.
8.   Pernafasan
      Gejala    :   Merokok, pemajanan asbes.
9.   Keamanan
      Gejala    :   Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama.
      Tanda    :   Demam, ruam kulit, ulserasi.
10. Seksualitas
      Gejala    :   Masalah seksual, pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini.
11. Interaksi sosial
      Gejala    :   Ketidakadekuatan atau kelemahan sistem pendukung masalah tentang fungsi atau tanggung jawab peran dan riwayat perkawinan.
12. Penyuluhan atau pembelajaran
      Gejala    :   Riwayat kanker pada keluarga, penyakit metastatik, riwayat pengobatan.
Pemeriksaan diagnostik
  1. Scan dan ultrasound : identifikasi metastatik dan evaluasi respon pengobatan.
  2. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum) : untuk menggambarkan pengobatan.
  3. Penanda tumor untuk monitor kanker dan membantu mendiagnosis  kanker.
  4. Tes kimia skrining misalnya elektrolit, tes ginjal, tes hepar, tes tulang.
  5. JDL dengan diferensial dan trombosit : menunjukkan anemia. (Doenges, 2000 : 997)

J.   Pathway dan Masalah Keperawatan




K.  Fokus Intervensi
                  Dengan melihat pathway tumor gaster dan merumuskan diagnosa perawatannya, maka beberapa diagnosa perawatan tersebut menjadi fokus intervensi, antara lain menurut Brunner and Suddarth (2002) adalah :
1.   Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
      Intervensi :
      a.   Ciptakan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam.
      b.   Berikan dorongan terhadap keluarga dalam mendukung pasien.
c.   Berikan keterangan dan dukungan tindakan koping positif.
d.   Anjurkan pasien tentang adanya prosedur dan pengobatan.
e.   Anjurkan pasien untuk mendiskusikan perasaan pribadi dengan orang pendukung.
2.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
      Intervensi :
      a.   Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
b.   Berikan makanan yang tidak mengiritasi lambung.
c.   Berikan suplemen makanan yang tinggi kalori, vitamin A dan C, serta zat besi.
d.   Pantau kecepatan dan frekwensi terapi intravena.
e.   Catat masukan, haluaran dan berat badan tiap hari.
f.    Kaji tanda-tanda dehidrasi (haus, mukosa kering, turgor kulit kering).


3.   Nyeri berhubungan dengan adanya sel epitel abnormal.
      Intervensi :
      a.   Kaji intensitas, frekuensi, dan durasi nyeri.
      b.   Anjurkan untuk periode istirahat dan relaksasi.
      c.   Ajarkan tehnik untuk menghilangkan nyeri (imajinasi, distruksi, relaksasi, gosokan punggung, dan masase).
      d.   Kolaborasi tentang pemberian analgetik sesuai resep.
                  Doenges (2000) juga menambahkan diagnosa yang muncul pada kanker lambung berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan sebagai berikut :
4.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan ketidakadekuatan pertahanan sekunder.
      Tujuan           :   Tanda-tanda infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.           
      Kriteria hasil  :  
a.       Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam intervensi untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi.
b.      Tetap tidak demam dan mencapai pemulihan tepat waktu.
      Intervensi :
      a.   Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik dengan staf dan pengunjung.
      b.   Tekankan higiene personal.
      c.   Pantau suhu, dan tingkatkan istirahat adekuat.
      d.   Kaji semua sistem terhadap tanda atau gejala infeksi secara kontinyu.
      e.   Ubah posisi dengan sering : pertahankan linen kering dan bebas kerutan.
      f.    Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
5.   Gangguan harga diri berhubungan dengan biofisikal : kecacatan bedah.
      Tujuan           :   Gangguan harga diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
      Kriteria hasil  :  
a.       Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh.
b.      Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.
      Intervensi :
      a.   Dorong diskusi pecahkan masalah tentang efek kanker atau pengobatan.
      b.   Akui kesulitan pasien yang mungkin dialami.
      c.   Berikan dukungan emosi untuk pasien atau orang terdekat selama tes diagnostik.
      d.   Gunakan sentuhan selama interaksi, bila dapat diterima pada pasien dan pertahankan kontak mata.
      e.   Evaluasi struktur pendukung yang ada dan digunakan oleh pasien atau orang terdekat.
6.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
      Tujuan           :   Kurang pengetahuan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.

      Kriteria hasil  :  
a.       Mengungkapkan informasi akurat tentang diagnosa dan aturan pengobatan pada tingkatan kesiapan diri sendiri.
b.      Melakukan perubahan gaya hidup yang perlu dan berpartisipasi dalam aturan pengobatan.
      Intervensi :
a.       Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pemahaman diagnosa khusus.
b.      Berikan informasi yang jelas tentang kanker dan pengobatan kanker.
c.       Berikan pengobatan antisipasi pada pasien atau orang terdekat mengenai pengobatan.
d.      Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pentingnya mempertahankan status nutrisi optimal.
e.       Anjurkan meningkatkan masukan cairan dan serat dalam diet serta latihan teratur.
7.   Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan.
      Tujuan           :   Pasien dapat melakukan mobilisasi fisik secara optimal setelah dilakukan tindakan keperawatan.
      Kriteria hasil  :   Meningkatnya atau memperhatikan mobilitas pada tempat paling tinggi yang mungkin, meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit.
      Intervensi :
a.       Kaji tingkat mobilitas yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilisasi.

b.      Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik.
c.       Indikasikan pasien untuk bantu dalam rentang gerak pasif.
d.      Bantu dorong perawatan diri atau kebersihan.
e.       Berikan lingkungan yang aman.














BAB II
RESUME KEPERAWATAN

A.  Pengkajian
                  Pengkajian dilakukan pada hari Rabu tanggal 04 Juni 2008 jam 08.00 WIB di bangsal Multazam Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Data diperoleh dari pemeriksaan fisik pasien, wawancara dengan keluarga, tim kesehatan lain dan dari catatan medik. Identitas pasien nama Tn. S, umur 64 tahun, alamat Kalioso Kalijambe Sragen, pekerjaan swasta, jenis kelamin laki-laki, no. register 152873, dengan diagnosa medis tumor gaster. Identitas penanggung jawab nama Ny. I, umur 41 tahun, alamat Kalijambe Sragen, hubungan dengan pasien saudara.
19
 
                  Keluhan utama pasien mengatakan tubuhnya terasa lemas. Riwayat penyakit sekarang pada 2 minggu terakhir ini pasien merasakan nyeri pada perut kiri atas, kemudian pasien dibawa ke RS. PKU Muhammadiyah Surakarta karena tidak kuat menahan nyeri. Di IGD pasien mendapat terapi infus RL 20 tpm, kemudian pasien dipindah ke bangsal Multazam dan mendapat injeksi kalnex 250 mg/ 12 jam, ranitidin 50 mg/ 12 jam dan neurobat 2 cc/ 12 jam, merasakan mual dan muntah 1 kali. Riwayat penyakit dahulu pasien belum pernah menderita penyakit yang serius dan belum pernah mondok di rumah sakit. Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit menurun dan menular (DM, hipertensi, jantung dan lain-lain).
                  Hasil pengkajian pola kebiasaan didapat oksigenasi pasien bernafas spontan dengan respirasi 26 x/menit, terpasang O2 3 liter/menit, sedikit sesak nafas. Nutrisi pasien makan habis ¼ porsi yang disajikan dari rumah sakit dengan komposisi bubur nasi, sayuran, dan lauk, pasien tidak mengkonsumsi makanan ringan dari luar. Cairan dan elektrolit pasien minum ± 5-6 gelas/hari, setiap minum yang disajikan dari rumah sakit selalu habis dan ditambah air putih (dari rumah), pasien juga mendapatkan terapi infus RL 20 tetes/menit. Eliminasi pasien BAB 1 kali/hari dengan konsistensi padat hitam, bau khas dan keluar sedikit, pasien BAK ± 4 kali/hari dengan warna kuning jernih, bau khas, tidak ada kesulitan. Istirahat tidur selama sakit pasien istirahat tidur ± 7 jam/hari dan nyenyak baik pada malam hari maupun siang hari. Aktivitas selama sakit, aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat terutama dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Personal higiene selama sakit pasien pagi dan sore disibin oleh keluarga, pasien tidak menggosok gigi hanya berkumur saja, karena tidak tahu cara menggosok gigi di atas tempat tidur. Aman dan nyaman selama sakit pasien merasa aman karena selalu didampingi oleh istrinya dan berada di bawah pengawasan dokter, ia yakin akan sembuh. Pasien merasa tidak  nyaman karena seluruh tubuhnya lemas. Cinta mencintai pasien mengatakan merasa lebih diperhatikan dan merasa sangat disayangi oleh keluarga yang selalu mendampinginya di rumah sakit. Aktualisasi diri pasien tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena keadaannya yang lemah dan harus banyak istirahat. Gambaran diri pasien mengatakan dirinya sedang sakit dan bagian tubuh yang sakit adalah perut kirinya. Ideal diri pasien berharap cepat sembuh pulih kembali ke keadaan sehat dan cepat keluar dari rumah sakit. Peran pasien sebagai kepala rumah tangga meskipun sakit ia tetap dihormati dan merasa sangat dibutuhkan oleh keluarganya. Identitas diri pasien menyadari bahwa dirinya adalah seorang laki-laki tua berusia 64 tahun dan sedang sakit. Harga diri pasien merasa harga dirinya tetap karena meskipun sedang sakit ia masih bisa berhubungan atau berkomunikasi dengan lancar. Psikologis pasien menyadari kalau dirinya sedang sakit tumor dan ia cemas dengan penyakitnya. Spiritual pasien jarang melaksanakan ibadah sholat karena dirinya lemah dan ia lebih banyak berdoa agar lekas sembuh. Pengetahuan pasien mengatakan belum mengetahui banyak tentang penyakitnya, dan belum mengetahui pentingnya nutrisi atau diet yang dibutuhkan olehnya.
                  Hasil pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tekanan darah 120/70 mmHg, suhu 36,8°C, nadi 108 x/menit, respirasi 26 x/menit, berat badan 63 kg. Kepala rambut lurus, pendek dan hitam, tidak berketombe, tidak ada lesi, mata tidak cekung, konjungtiva an anemis, hidung tidak ada sekret, berfungsi dengan baik, tidak ada lesi, tidak ada serumen. Untuk leher tidak pembesaran kelenjar tyroid. Thorak pengembangan paru simetris kanan dan kiri, tidak ada benjolan dan nyeri tekan, sonor, tidak ada wheezing. Jantung ictus cordis tidak tampak, ictus cordis kuat angkat, pekak, bunyi jantung I sama dengan bunyi jantung II dan reguler. Abdomen tidak ada lesi atau lecet, peristaltik usus 6 x/menit, tympani, teraba massa atau benjolan di sebelah kiri atas. Genetalia pasien bersih, tidak terpasang DC, tidak ada kesulitan dalam berkemih. Ekstremitas atas terpasang infus RL 20 tetes/menit di tangan kanan, tidak ada oedem dan lila 23 cm, pengerakan baik, bawah tidak ada oedem dan pergerakan baik. Kulit tidak ada lesi tampak kering.
                  Hasil pengkajian data penunjang didapatkan sebagai berikut : hasil pemeriksaan hematologi tanggal 02 Juni 2008 didapatkan hemoglobin 3,6 gr/dl, leukosit 16.000 /mm3, trombosit 1.040.000 /mm3. Hasil pemeriksaan radiologi tanggal 17 Mei 2008 didapatkan radiologis KP duplek lama aktif dengan cardio megali, tidak ada tanda-tanda illeus, peritonitis, atau perforasi cenderung meteorismus ringan. Hasil pemeriksaan ECG tanggal 02 Juni 2008 didapatkan kesan normal dan sinus ritme. Terapi tanggal 04 Juni 2008 transfusi PRC golongan darah A 5 colf, diteruskan infus RL 20 tpm, kalnex 250 mg/ 12 jam, ranitidin 50 mg/ 12 jam, neurobat 2 cc/ 12 jam.
                 
B.  Analisa Data
No
Data
Etiologi
Problem
1.
DS :   Pasien mengatakan nafsu makannya berkurang, lemah seluruh tubuh, muntah satu kali, BAB sedikit dan padat.
DO :  Makan habis ¼ porsi, terpasang infus RL 20 tetes/menit, LILA 23 cm, hemoglobin 3,6 gr/dl, keadaan umum lemah, BAB warna hitam, transfusi PRC golongan darah A 5 colf
Anoreksia
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2.
DS :   Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemah, dan aktivitas dibantu oleh keluarga
DO :  Terpasang O2 3 liter/menit, sibin dibantu keluarga, pasien tampak tiduran, tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 108 x/menit, suhu 36,8°C, respirasi 26 x/menit
Penyakit dan pengobatan yang diantisipasi
Ansietas
3.
DS :   Pasien mengatakan menanyakan tentang kondisinya dan perlunya gizi seimbang
DO :  Pasien makan habis ¼ porsi, keadaan umum lemah, pasien bertanya tentang kondisinya
Kurang informasi
Kurang pengetahuan
                 
                  Berdasarkan analisa data maka dapat diprioritaskan diagnoa keperawatan sebagai berikut :
1.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
2.   Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
3.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.
C.  Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi
1.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam. Kriteria hasil : mengikuti kembali pola makan yang normal, masukan kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan. Intervensi : observasi dan kaji status nutrisi pasien, berikan makanan yang disukai pasien dalam batas diet, anjurkan makan sedikit tapi sering, catat masukan haluaran dan berat badan tiap hari, pantau kecepatan dan frekuensi terapi intravena, kolaborasi tentang pemberian fungsi obat.
Implementasi tanggal 04 Juni 2008 pukul 08.00 WIB mengukur tanda-tanda vital : tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 60 x/menit, suhu 36,8° C, respirasi 26 x/menit, mengukur lingkar lengan atas, memonitor tetesan infus. Pukul 09.10 WIB memberikan injeksi kalnex 250 mg/ 12 jam dan ranitidin 50 mg / 12 jam dan memberikan fooding pagi, menganjurkan makan sedikit tapi sering.
Evaluasi pada tanggal 04 Juni 2008 pukul 12.30 WIB subyektif : pasien mengatakan nafsu makannya meningkat, tubuhnya masih lemah, tidak muntah lagi, obyektif : makan habis ½ porsi, fooding pagi dihabiskan. Assesment : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi sebagian, planning : intervensi dilanjutkan dengan menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering.


2.   Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi
                  Tujuan ansietas berkurang atau teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam. Kriteria hasil : ansietas berkurang, pasien tidak menunjukkan ansietas yang berlebihan, tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi : dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, ciptakan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam, berikan ketenangan dan dukungan, anjurkan pasien untuk mendiskusikan perasaan pribadi dengan orang pendukung.
                  Implementasi, Rabu 04 Juni 2008 pukul 08.30 WIB menciptakan lingkungan yang nyaman, menambahkan cairan humudifier, menganjurkan kepada keluarga untuk membatasi pengunjung, mengganti linen yang kotor dan merapikannya, menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang adanya prosedur dan pengobatan.
                  Evaluasi : pada tanggal 04 Juni 2008 pukul 12.30 WIB subyektif : pasien mengatakan masih cemas atas penyakitnya, aktivitas masih dibantu keluarga, obyektif : tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 90 x/menit, suhu 36,6°C, respirasi 21 x/menit, tampak tiduran. Aktivitas dibantu keluarga, terpasang O2 3 liter/menit. Assesment : ansietas teratasi sebagian, planning : intervensi dilanjutkan dengan pantau tingkat ansietas dan beri pendekatan terhadap pasien.
3.   Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan pengetahuan pasien tentan kondisinya teratasi atau bertambah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit. Intervensi : kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga, beri kesempatan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan, beri penjelasan atau pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang.
Implementasi hari Rabu tanggal 04 Juni 2008 pukul 09.45 mengkaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga, memberikan kesempatan pada pasien untuk bertanya, 10.30 WIB memberikan penyuluhan pasien tentang pentingnya nutrisi dan gizi seimbang.
Evaluasi pada tanggal 04 Juni 2008 subyektif : pasien sudah mengerti tentang fungsi nutrisi dan gizi seimbang, obyektif : pasien tidak bertanya lagi kepada perawat. Assesment :  masalah teratasi, planning : intervensi dihentikan.
     
.

Minggu, 26 Februari 2012

Asuhan Keperawatan Ikterus

            Ikterus merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada Bayi Baru Lahir (BBL). Menurut beberapa penulis kejadian ikterus pada BBL berkisar 50 % pada bayi cukup bulan dan 75 % pada bayi kurang bulan.
            Perawatan Ikterus  berbeda diantara negara tertentu, tempat pelayanan tertentu dan waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengelolaan pada BBL, seperti ; pemberian makanan dini, kondisi ruang perawatan, penggunaan beberapa propilaksi  (misal; luminal) pada ibu dan bayi, fototherapi dan transfusi pengganti.
          
  Asuhan keperawatan pada klien selama post partum juga terlalu singkat, sehingga klien dan keluarga harus dibekali pengetahuan, ketrampilan dan informasi tempat rujukan, cara merawat bayi dan dirinya sendiri selama di rumah sakit dan perawatan di rumah. 
            Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peranan dalam memberikan asuhan  keperawatan secara paripurna. Untuk itu  dalam penulisan makalah ini mempunyai maksud :
1.      Agar perawat memiliki intelektual dan mampu menguasai ketrampilan dan tehnik terutama yang berkaitan dengan perawatan klien dan keluarga dengan bayi  Ikterus (Hiperilirubinemia),
2.      Agar Perawat mampu mempersiapkan klien dan keluarga ikut serta dalam proses perawatan selama di Rumah Sakit dan perewatan lanjutan di rumah.
            Atas dasar hal tersebut diatas maka kami menyusun makalah dengan judul ”Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planing pada klien dengan Bayi Hiperbilirubinemia”
            Adapun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana memberikan Asuhan Keperawatan    pada  klien dengan bayi  Hyperbilirubinemia  yang mendapat  Fototherapi.
            Dalam penulisan makalah ini kami  menggunakan metode Studi Kepustakaan, wawancara, Partisipasi Aktif dalam pemberian Asuhan Keperawatan.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Batasan-Batasan
1.      Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut  (Hanifa, 1987): 
·         Timbul pada hari kedua-ketiga
·         Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
·         Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
·         Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
·         Ikterus hilang pada 10 hari pertama
·         Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu

2.      Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia  bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.

3.      Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus  Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.

D. Etiologi
  1. Peningkatan produksi :
·         Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian  golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
·         Pendarahan tertutup  misalnya pada trauma kelahiran.
·         Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan  metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
·         Defisiensi G6PD/ Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
·         Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol (steroid).
·         Kurangnya  Enzim Glukoronil  Transeferase , sehingga  kadar Bilirubin Indirek  meningkat misalnya pada berat lahir rendah.
·         Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
  1. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan  misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
  2. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme  atau toksion yang dapat langsung merusak sel hati  dan darah merah seperti Infeksi , Toksoplasmosis, Siphilis.
  3. Gangguan ekskresi  yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
  4. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

E . Metabolisme Bilirubin         
            Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi  Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site).
            Pada bayi yang normal dan sehat  serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.



Download Patway Disini

F. Patofisiologi Hiperbilirubinemia

            Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
            Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
            Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari  20 mg/dl.
            Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus.  Bilirubin  Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi  terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH, Markum,1991).

G. Penata Laksanaan Medis
            Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1.      Menghilangkan Anemia
2.      Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3.      Meningkatkan Badan Serum Albumin
4.      Menurunkan Serum Bilirubin
            Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.

Fototherapi
            Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
            Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
            Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa  ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.

Tranfusi  Pengganti
            Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1.      Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2.      Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3.      Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4.      Tes Coombs Positif
5.      Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6.      Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7.      Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8.      Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9.      Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.

Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1.      Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2.      Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3.      Menghilangkan Serum Bilirubin
4.      Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin

            Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.


Therapi Obat
            Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.

Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus:
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb:
·         Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain.
·         Infeksi Intra Uterin (Virus, Toksoplasma, Siphilis dan kadang-kadang Bakteri)
·         Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD.

Pemeriksaan yang perlu dilakukan:
·         Kadar Bilirubin Serum berkala.
·         Darah tepi lengkap.
·         Golongan darah ibu dan  bayi.
·         Test Coombs.
·         Pemeriksaan skrining  defisiensi G6PD, biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.

2. Ikterus yang timbul 24  -   72 jam sesudah lahir.
·         Biasanya Ikterus fisiologis.
·         Masih ada kemungkinan inkompatibilitas  darah ABO atau Rh, atau golongan lain. Hal ini diduga   kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi  5mg% per 24 jam.
·         Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin.
·         Polisetimia.
·         Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis, pendarahan   Hepar, sub kapsula dll).

Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan  yang perlu dilakukan:
·         Pemeriksaan darah tepi.
·         Pemeriksaan  darah Bilirubin berkala.
·         Pemeriksaan skrining Enzim G6PD.
·         Pemeriksaan lain bila perlu.

3.  Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.
·         Sepsis.
·         Dehidrasi  dan Asidosis.
·         Defisiensi  Enzim G6PD.
·         Pengaruh obat-obat.
·         Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert.

4.  Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya:
·         Karena ikterus obstruktif.
·         Hipotiroidisme
·         Breast milk Jaundice.
·         Infeksi.
·         Hepatitis Neonatal.
·         Galaktosemia.

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan:
·         Pemeriksaan Bilirubin berkala.
·         Pemeriksaan darah tepi.
·         Skrining Enzim G6PD.
·         Biakan darah, biopsi Hepar bila  ada indikasi.

ASUHAN KEPERAWATAN
            Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.

Pengkajian
1.      Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
2.      Pemeriksaan Fisik :
Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks menyusui yang lemah, Iritabilitas.
3.      Pengkajian Psikososial :
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.

4.      Pengetahuan Keluarga meliputi :
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 1988)

2. Diagnosa, Tujuan , dan Intervensi
            Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan masalah yang memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan menyusun perencanaan asuhan keperawatan. Masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data yang diperoleh.
1.      Diagnosa Keperawatan : Kurangnya volume cairan sehubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi, dan diare.
Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat
Intervensi : Catat jumlah dan kualitas feses, pantau turgor kulit, pantau intake output, beri air diantara menyusui atau memberi botol.
2.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan suhu tubuh (hipertermi) sehubungan dengan efek fototerapi
Tujuan : Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan
Intervensi : Beri suhu lingkungan yang netral, pertahankan suhu antara 35,5° - 37° C, cek tanda-tanda vital tiap 2 jam.

3.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan integritas kulit sehubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare
Tujuan : Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan
Intervensi : Kaji warna kulit tiap 8 jam, pantau bilirubin direk dan indirek , rubah posisi setiap 2 jam, masase daerah yang menonjol, jaga kebersihan kulit dan kelembabannya.

4.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan parenting sehubungan dengan pemisahan
Tujuan : Orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku “Attachment” , orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding.
Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui, buka tutup mata saat disusui, untuk stimulasi sosial dengan ibu, anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya, libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan, dorong orang tua mengekspresikan perasaannya.

5.      Diagnosa Keperawatan : Kecemasan meningkat sehubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan, dapat mengidentifikasi gejala-gejala untuk menyampaikan pada tim kesehatan
Intervensi :
Kaji pengetahuan keluarga klien, beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah.

6.      Diagnosa Keperawatan : Potensial trauma sehubungan dengan efek fototherapi
Tujuan : Neonatus akan berkembang tanpa disertai tanda-tanda gangguan akibat fototherapi
Intervensi :
Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya, biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya; usahakan agar penutup mata tida menutupi hidung dan bibir; matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam; buka penutup mata setiap akan disusukan; ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan.

7.      Diagnosa Keperawatan : Potensial trauma sehubungan dengan tranfusi tukar
Tujuan : Tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi :
Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan; basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan, neonatus puasa 4 jam sebelum tindakan, pertahankan suhu tubuh bayi, catat jenis darah ibu dan Rhesus serta darah yang akan ditranfusikan adalah darah segar; pantau tanda-tanda vital; selama dan sesudah tranfusi; siapkan suction bila diperlukan; amati adanya ganguan cairan dan elektrolit; apnoe, bradikardi, kejang; monitor pemeriksaan laboratorium sesuai program.

Aplikasi Discharge Planing.
            Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi dengan hiperbilirubin (seperti rangsangan, latihan, dan kontak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan dirumah.

Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan tindakan yang terbaik dalam perawatan bayi hiperbilirubinimea (warley &Wong, 1994):
1.      Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila  bayi mengalami gangguan-gangguan kesadaran seperti : kejang-kejang, gelisah, apatis, nafsu menyusui menurun.
2.      Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama beberapa hari untuk mempertahankan kelancaran air susu.
3.      Memberikan penjelasan tentang prosedur fototherapi pengganti untuk menurunkan kadar bilirubin bayi.
4.      Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan pemberhentian ASI dalam hal mencegah peningkatan bilirubin.
5.      Mengajarkan tentang perawatan kulit :
·         Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat.
·         Siapkan alat untuk membersihkan mata, mulut, daerah perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak.
·         Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk mempertahankan kelembaban kulit.
·         Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit.
·         Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh karena dapat mengakibatkan lecet karena gesekan
·         Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penekanan yang lama, garukan .
·         Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok yang basah karena bab dan bak.
·         Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi seperti : turgor kulit, capilari reffil.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah :
1.      Cara memandikan bayi dengan air hangat  (37 -38 ° celsius)
2.      Perawatan tali pusat / umbilikus
3.      Mengganti popok dan pakaian bayi
4.      Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak nyaman, bosan, kontak dengan sesuatu yang baru
5.      Temperatur / suhu
6.      Pernapasan
7.      Cara menyusui
8.      Eliminasi
9.      Perawatan sirkumsisi
10.  Imunisasi
11.  Tanda-tanda dan gejala penyakit, misalnya :
·         letargi ( bayi sulit dibangunkan )
·         demam ( suhu > 37 ° celsius)
·         muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x)
·         diare ( lebih dari 3 x)
·         tidak ada nafsu makan.
12.  Keamanan
·         Mencegah bayi dari trauma seperti; kejatuhan benda tajam (pisau, gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita.
·         Mencegah benda panas, listrik, dan lainnya
·         Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya.
·         Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara - saudaranya.

BAB III
PERMASALAHAN

Tinjauan Kasus :
Nama Klien : By. Ny. X
Tanggal Lahir Bayi : 19 - 10 - 1996, Jam : 22.20 WIB.
Apgar 1 menit : 9   dan 5 menit : 9.
Berat badan lahir : 2750 gram, Berat badan sekarang : 2550 gram.
Panjang badan : 47 cm, Lingkar kepala : 33 cm, lingkar dada : 36 cm.
Denyut Jantung : 129 x/mt, pernafasan : 44 x/mt.
Bunyi pernafasan paru-paru kiri kanan : Vesikuler, Rinchi/whezing : tidak terdengar.
Suhu : 36°C.

Kepala :
Molding, Caput Sucsadenium,  Cephal hematom : tidak ada.
Ubun-ubun besar : ada, Bentuk : Jajaran genjang datar, Ubun-ubun kecil : ada, Bentuk :  segitiga datar. Sutura : ada.
Mata, Posisi : simetris, jarak : + 3 cm, Kotoran di mata sebelah kiri : ada, perdarahan : tidak ada.
Telinga : simetris/ datar dengan kepala, perdarahan : tidak ada, Lubang : ada.
Mulut : simetris, Palatum mol/durum : ada, Gigi : tidak ada.
Hidung : lubang hidung ada, keluaran : tidak ada , pernafasan cuping hidung : tidak ada.
Pergerakan leher : positif, tanda lahir : tidak ada.

Tubuh :
Warna kulit : kuning pada seluruh tubuh.
Pergerakan : aktif.
Lanugo : ada pada punggung. Vernix : tidak ada.
Pengeluaran : mekonium.
Keadaan kulit :  pada kedua pergelangan kaki dan tangan, serta di tubuh tampak terkelupas, Hidrasi : baik.
Dada : simetris, retraksi, ngorok dan see saw : tidak ada.
Perut : lembek, Bising usus : 9x/mt.

Tungkai :
Jari tangan : Kanan : jumlah 5 , Kiri : jumlah 5
Jari kaki : Kanan : Jumlah 5, Kiri : jumlah 5
Pergerakan : aktif
Nadi branchial : teraba, 120 x/menit
Nadi femoral : teraba, 120 x/menit
Tremor : tidak ada
Rotasi paha : normal
Garis telapak tangan : jelas, telapak kaki : jelas
Posisi kaki : fleksi

Punggung
Fleksibelitas tulang punggung : normal
Simetris, pretudal dumple
Lobang anus : ada

Genitalia
Jenis kelamin : laki-laki
Lubang penis : hipospadia
B.a.b. : pertama : tanggal
B.a.k :  pertama : tanggal
Jenis makanan : ASI ditambah susu formula

Refleks
Mengisap : baik, rooting : baik, menggenggam : baik.
Moro : baik, berjalan menapak, tonus leher : baik.
Menangis : kuat
Keadaan umum : agak lemah

Hasil Laboratorium :
Tanggal 22 Oktober 1996
·         Hb  : 18,2 gr. %
·         Bilirubin  : 17,8 gr %

Tanggal 23 Oktober 1996
·         Bilirubin Indirek : 10,84 gr %
·         Bilirubin Direk  : 0,99 gr %
·         Bilirubin total : 11, 83 gr %

Terapi yang diberikan
Tanggal 19 Oktober 1996
Vitamin K   1 mg peroral
Tanggal 20 Oktober 1996
Vitamin K  1 mg peroral
Tanggal 22 Oktober  1996
·  Infus N-4 dilengan sebelah kiri, dengan tetesan microdrip 10 tetes / menit
·  Sinar ultra violet (jam 12.00 Wib)
·  Parficillin  4 x 75 mg
·  Luminal  2 x 5 ml
·  FFP  50 cc, belum diberikan, masih dalam proses untuk mendapatkannya.


Ringkasan riwayat kehamilan dan persalinan
Masalah-masalah kehamilan : tidak ada
Persalinan Kala I : 10 jam 10 menit
                Kala II : 10 menit
               Pecah ketuban : 1 jam 20 menit
Jenis Persalinan : pervaginam
Obat-obat yang diberikan : Citosinon 5 unit IM.

Pengkajian Keluarga
Adaptasi Psikologi Ibu
Perasaan ibu setelah bayi  lahir : merasa senang dan mulai tercipta hubungan yang baru, tetapi bayi harus dipisah karena mengalami hiperbilirubinemia.
Adanya ikatan kasih : terjadi pada saat baru lahir.
Data obyektif : ibu bertingkah laku pasif, lebih banyak berdiam diri, masih tergantung dan perlu bantuan orang lain.

 Adaptasi psikologi ayah
Respon ayah setelah bayi lahir: merasa bahagia dapat melahirkan dengan selamat.
Keterlibatan dalam persalinan : mengantar, menunggu sampai bayi lahir.
Ketidaleluasaan karena peraturan Rumah Sakit : ayah ingin ikut dalam proses persalinan.
Tanggapan tentang penyakitnya : tidak tahu-menahu tentang penyakitnya, beranggapan penyakit ini sebagai penyakit keturunan / kesalahan dari orang tua.

Adaptasi psikologi keluarga
Menimbulkan perubahan : ya, terutama perubahan peran karena bertambahnya anggota keluarga.
Apakah terjadi sibling: belum terpikirkan oleh keluarga .
Apakah ada anggota keluarga yang terlibat dalam perawatan bayi : semua anggora keluarga terlibat dalam merawat bayinya.
Tanggapan terhadap penyakitnya : tidak tahu-menahu dan belum mempunyai pengalaman dalam riwayat keluarga belum pernah terjadi penyakit tersebut.

MASALAH KEPERAWATAN :
1.    Perawatan pemenuhan kebutuhan  cairan, Asi, Pasi (bila Asi belum ada) harus sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi untuk mengatasi efek samping fototherapi
2.    Perawatan perubahan suhu tubuh sebagai efek fototherapi
3.  Perawatan Integritas kulit .
4.    Bimbingan pada keluarga  karena dipisahkan dengan bayinya
5.    Bimbingan pada kecemasan keluarga karena ketidaktahuan tentang penyakit dan therapi yang diberikan pada bayinya.
6.    Mempersiapkan keluarga untuk perawatan lanjutan dirumah.

BAB IV.
PEMBAHASAN



Nama Klien         :

Bangsal/Tanggal :
ASUHAN KEPERAWATAN
Bayi Ny. X
RSB. Budi Kemuliaan                       Mata Ajaran : Maternitas
Tanggal 22 Oktober 1996                                                                                  
Dx. Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Implementasi
Evaluasi

1.Potensial kurangnya volume cairan sehu-bungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi dan diare.
Data Obyektif :
·  Bayi di fototherapi.
·  Bayi diare
Meningkatkan intake cairan yang adekuat.

·  Berikan Asi/Pasi segera dalam waktu 4 - 6 jam setelah pindah ke ruang post partum







·  Berikan Asi\Pasi  setiap 3 - 4 jam dan diselingi pemberian air minum tambahan .


·  Berikan makanan sesuai dengan petunjuk



·  Berikan cairan per infus



·  Kaji pola menelan, bising usus, eliminasi urin, pola tidur dan iritabilitas setiap hari

·  Catat adanya tanda-tanda dehidrasi seperti : ubun-ubun cekung, suhu  meningkat, turgor kulit jelek atau membran mukosa kering.

·  Pemberian makan sedini mungkin (waktu 4 - 6 jam) cenderung untuk mengurangi / menekan hasil bilirubin yang tinggi. Menstimulasi aktivitas usus dan pem-buangan pigmen mekonium yang mengandung bilirubin sehingga dapat mencegah reabsorpsi dari intestinum.

·  Hidrasi yang adekuat mem-permudah pengeluaran / eliminasi dan ekskresi bilirubin. Mengganti cairan yang hilang melalui feses jika difototherapi.

·  Meningkatkan peristaltik dan ekskresi empedu sebelum terjadi resirkulasi entero-hepatik.
·  Cairan intravena diberikan bila bayi mengalami dehidrasi atau jika ada komplikasi lain.

·  Untuk mengetahui sedini mungkin adanya tanda-tanda bahaya. Bayi mungkin mengalami pengeluaran feses yang hijau dan cair.
·  Untuk mengetahui tanda-tanda dehidrasi secara dini dan dapat  pencegahanya terjadi-nya dehidrasi.



2.Potensial gangguan suhu tubuh (hipertermi) sehu-bungan dengan efek fototherapi
Kesetabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan.
Kriteria:
·  Suhu kulit dan ketiak 36,5°C-37°C.
·  Suhu rektal 36,7°C-37,2°C.
·  Tidak ada tanda-tanda hipertermia
·  Monitor suhu axila kulit dan  suhu rektal setiap 30-60 menit selama penyinaran.
·  Pertahankan suhu  Box dengan mengatur fentilasi /pintu box perta-hankan suhu 37°C
·  Observasi tanda-tanda vital, catat adanya : tachipnoe.


·  Catat adanya tanda-tanda stress: gelisah, kulit kering dan warna kemerahan



·  Pertahankan modalitas foto-therapi



·  Catat adanya tanda-tanda dehidrasi seperti : ubun-ubun cekung, suhu  meningkat, turgor kulit jelek atau membran mukosa kering.
·  Metabolisme meningkat bila suhu  meningkat.

·  Mencegah ketidak seimbang-an panas secara bertahap pada bayi.

·  Respon adanya peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan O2 (Asidosis Respiratorik)
·  Hipertermi akan mempenga-ruhi sistim sirkulasi sehingga terjadi fasodilatasi untuk mengeluarkan keringat dalam mempertahankan suhu tubuh

·  Modalitas pemngobatan ter-gantung pada tingkat kadar bilirubin, waktu serangan dan adanya penyakit lain

·  Suhu axila lebih dari 37,5°C dianggap hipertermia dan dianggap pengeluaran panas yang berlebihan pada bayi




2.Gangguan Integritas kulit sehubungan dengan hiperbilirubinimea dan diare.
Data Obyektif :
·  Kulit pada kedua per- gelangan tangan serta tubuh terkelupas.
·  Warna kulit bayi kuning (Ikterus)

Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan.

·  Kaji tanda-tanda ikterus / jaundice selengkap-lengkap-nya dgn menggunakan sinar matahari bila mungkin., observasi skelra, observasi warna kulit, dan kaji dengan menekan kulit pada bagian yang keras, cek mukosa mulut, bagian belakang dari palatum keras dan kantung kojungtiva (untuk bayi yang berkulit hitam).

·  Bersihkan dan mengganti popok setiap b.a.b.


·  Jaundice merupakan tanda-tanda awal adanya hiper-bilirubinemia. Karena lampu buatan akan mengaburkan pengkajian. Jaundice perta-ma kali terlihat pada sklera yang menguning. Dengan menekan akan muncul warna kuning setelah tekanan dilepaskan. Pigmen pada orang kulit hitam normal akan terlihat kuning.

·  Seringnya b.a.b. merupakan faktor resiko kerusakan kulit.





4.Gangguan parenting sehubungan dengan pemisahan

Orang tua dan bayi menunjukkan tingkah laku Attachment, orang tua dapat mengekspresikan proses Bonding.

·  Buka tutup mata bayi saat disusui.

·  Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya.

·  Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkin-kan.

·  Menganjurkan orang tua mengekspresikan perasaannya




5.Kecemasan meningkat sehubungan dengan ketidaktahuan tentang perjalanan penyakit dan therapi yang diberikan pada bayi.
Data Subyektif:
·  Klien/keluarga selalu menanyakan tindakan yang akan diberikan.
Data Obyektif :
·  Program therapi yang harus dilakukan
·  Ibu tampak takut saat melihat keadaan bayinya.
Orang tua menegerti tentang perawatan, keluarga dapat ber- partisipasi meng- identifikasi gejala-gejala untuk men- yampaikan pada tim kesehatan
·  Kaji pengetahuan keluarga tentang perawatan bayi ikterus


·  Berikan penjelasan tentang:
Penyebab ikterus, proses terapi, dan perawatanya.



·  Berikan penjelasan setiap akan melakukan tindakan .


·  Diskusikan tentang keadaan bayi dan program-program yang akan dilakukan selama di rumah sakit
·  Ciptakan hubungan yang akrab dengan keluarga  selama melakukan perawatan
·  Memberikan bahan masukan bagi perawat sebelum me- lakukan pendidikan kesehat- an kepada keluarga

·  Dengan mengerti penyebab ikterus, program terapi yang diberikan keluarga dapat menerima segala tindakan yang diberikan kepada bayinya.
·  Informasi yang jelas sangat penting dalam membantu mengurangi kecemasan keluarga
·  Komunikasi secara terbuka dalam memecahkan satu per-masalahan dapat mengurangi kecemasan keluarga.
·  Hubungan yang akrab dapat meningkatkan partisipasi keluarga dalam merawat bayi ikterus
·  Melakukan pengkajian tentang pengetahuan keluarga dimana keluarga belum mengerti sama sekali tentang bayi ikterus dan  cara merawatnya.
·  Memberikan penjelasan tentang penyebab bayi ikterus, tindakan keparawatan yang diberikan selama di rumah sakit dan di rumah, jika pulang. Seperti : cara mempertahankan suhu tubuh normal, memberikan ASI, memandikan bayi, merawat tali pusat, mengganti pakaian, dan  pemberian imunisasi.
·  Memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan, seperti; memasang infus, memberikan fototerapi dan obat-obat injeksi atau obat lainnya.
·  Melakukan diskusi bersama keluarga tentang prinsip-prinsip yang  bisa dilakukan oleh keluarga dalam merawat bayi ikterus selama di rumah sakit dan di rumah  
·  Mengajak keluarga untuk bersama-sama merawat bayinya, seperti



6.Gannguan proses keluarga sehubungan dengan  respon keluarga yang kurang terhadap kondisi bayi.
Keluarga dapat menerima kondisi bayi
·   
·   
·   




Nama Klien         :

Bangsal/Tanggal :
ASUHAN KEPERAWATAN

                                                     Mata Ajaran : Maternitas
                                                                                                                        

No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasionalisasi
1.
·   





Kaji tanda-tanda ikterus / jaundice selengkap-lengkapnya dengan meng-gunakan sinar matahari bila mungkin., observasi skelra, observasi warna kulit, dan kaji dengan menekan kulit pada bagian yang keras, cek mukosa mulut, bagian belakang dari palatum keras dan kantung kojungtiva (untuk bayi yang berkulit hitam)

Jaga bayi untuk tetap hangat.



Jaundice merupakan tanda-tanda awal adanya hiperbilirubinemia. Karena lampu buatan akan mengaburkan pengkajian.
Jaundice pertama kali terlihat pada sklera yang menguning. Dengan menekan akan muncul warna kuning setelah tekanan dilepaskan. Pigmen pada orang kulit hitam normal akan terlihat kuning.

Menjaga agar tidak terjadi hipotermia.
2.
Potensial injuri sehubungan dengan kojungtivitis, hipotermia, dan dehidrasi karena penggunaan fototerapi.
Data Obyektif :
·         Mendapat fototerapi
·         Tidak menggunakan pakaian dengan mata dan genitalia tidak tertutup selama fototerapi.

Tidak mengalami kerusakan mata, dehidrasi dan hipertermi selama fototerapi.
Mempertahankan modalitas pengobatan



Berikan fototerapi



Tutup mata selama penyinaran


Pindahkan bayi dari cahaya fototerapi dan lepas penutup mata selama pemberian makan.

Kaji mata terhadap konjungtivitis dan abrasi kornea

Gunakan penutup yang minimal

Rubah posisi tiap 2 jam


Monitor suhu kulit dan suhu inti tiap 1 jam sampai suhu tubuh stabil

Berikan ekstra cairan

Kaji tanda-tanda dehidrasi, yakni : turgor kulit jelek, depresi fontanela, mata cekung, penurunan berat badan, perubahan elektrolit, penurunan output urin.

Observasi  adanya kemerahan pada kulit




Cek suhu inkubator


Matikan waktu saat mengambil darah untuk pemeriksaan bilirubin.
Modalitas pemngobatan tergantung pada tingkat kadar bilirubin, waktu serangan dan adanya penyakit lain

Menurunkan serum bilirubin dengan memperlancar ekskresi bilirubin tak terkojugasi

Melindungi retina dari kerusakan akibat cahaya dengan intensitas tinggi

Memungkinkan stimulasi visual



Mungkin disebabkan oleh iritasi dari penutup mata

Memungkinkan penyinaran yang merata

Mengefektifkan penyinaran dan mencegah penekanan pada satu tempat

Hipotermi dan hipertermi merupakan komplikasi yang umum dari fototerapi

Untuk menjamin hidrasi yang adekuat.

Fototerapi dapat menyebabkan peningkatan IWL. Bayi kadar bilirubin yang tinggi dapat menjadi letargi dan sulit untuk makan.

Kemerahan dihubungkan dengan fototerapi yang meningkatkan kadar bilirubin direk atau kerusakan hati dapat hilang 2 - 4 mg/dl

Penambahan panas dari fototerapi sering meningkatkan suhu badan dan suhu cove.

Karena pemaparan darah pada fototerapi akan mempengaruhi kadar bilirubin

4.
Potensial terjadinya gangguan volume cairan sehubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, fototherapi dan diare.

Keseimbangan cairan terpenuhi/terpelihara

·  Observasi intake dan out put, turgor kulit,
·  Observasi tanda-tanda vital : Nadi, Suhu , Respirasi,Kesadaran, refleks,tiap 30 - 60 menit.
·  Berikan minum air diantara pemberian ASI.
·   






4.
Kecemasan orang tua sehubungan dengan punya anak yang mengalami jaundice.
Data obyektif :
·         Orang tua tampak cemas

Data subyektif :
·         Menanyakan tentang keadaan anak dan proses penyakit.
Orang tua mendapatkan informasi mengenai proses penyakit, penyebab, dan hasi yang dicapai.
Orang tua memahami alasan untuk mengaktifkan pemberian ASI sesaat dan cara memompa susu.
Berikan penjelasan mengenai :
Kondisi bayi, modalitas pengobatan, alasan mengapa ibu harus menghentikan pemberian ASI.

Jelaskan pemberian ASI dihentikan sementara :
Kaji pengetahuan ibu mengenai pemompaan ASI dan memberikan informasi serta dukungan sesuai yang dibutuhkan.

Bantu ibu dalam menyusui ulang






Berikan rangsang taktil selama memberi makan dan  mengganti popok.

Melakukan sentuhan dan kontak mata ibu dan bayi selama pemberian ASI, bayi diajak bicara.

Dukung orang tua untuk masuk ke dalam ruang perawatan dalam memberi makan dan menyentuh bayi.
Orang tua tidak memahami mengapa dan apa terjadi keadaan tersebut.
Pengobatan bermacam-macam ; orang tua tidak memahami pengobatan yang diberikan
ASI merupakan penyebab jaundice yang belum jelas. Kadar bilirubin serum menurun dalam waktu 48 jam setelah pemberian ASI dan dihentikan. Pendapat dari dokter, para ahli yang lain tentang hal ini masih berbeda-beda.

ASI merupakan penyebab jaundice yang belum jelas. Kadar bilirubin serum menurun dalam waktu 48 jam setelah pemberian ASI dan dihentikan. Pendapat dari dokter, para ahli yang lain tentang hal ini masih berbeda-beda.

Ibu mungkin perlu dukungan dan informasi untuk  memulai kembali memberikan ASI

Neonatus perlu stimulasi taktil



Memberikan rasa nyaman dan menurunkan gangguan sensorik Adanya alat di ruang perawatan menyebabkan orang tua tidak mau atau segan untuk masuk ke dalam ruang perawatan

DAFTAR PUSTAKA

H. Markum : ” Ilmu Kesehatan Anak”. Buku I, Jakarta, FKUI, 1991.
Bobak, J. : ”Materity and Gynecologic Care”, Precenton, 1985.
Cloherty, P. John : ”Manual of Neonatal Care”, USA, 1981.
Harper : ”Biokimia”, Jakarta, EGC, 1994.
Jack A. Pritchard dkk : ”Obstetri Williams”, Edisi XVII, Surabaya, Airlangga University Press, 1991
Marlene Mayers, et. al. : ”Clinical Care Planes Pediatric Nursing”, New York, Mc.Graw-Hill. Inc, 1995.
Mary Fran Hazinki : ”Nursing Care of Critically Ill Child”, Toronto, The Mosby Compani CV, 1984.
Susan R. J. et. al. : ”Child Health Nursing”, California, 1988.